Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts

Sunday, February 14, 2016

Kisah Nyata Mati Suri Di Bali

Ini bukan cerita horor dalam film ataupun mitos mitos horor yang ada di seputaran masyarakat , ini adalah kisah nyata dalam kehidupan kita.

Teater Kematian adalah Misteri tentang bagaimana cara kita mati. Aneh memang , tapi sempatkah kita berfikir dengan cara apa kita mati? Sakit? Kecelakaan? Atau karna hal lain lain?
Tidak ada yang tahu . kematian tidak dapat diduga , kematian tidak dapat di pastikan. 
Neleaks.blogspot.com
Picture by google images

Sebut saja namanya galuh nama aslinya waluh (labu ) wkwkwk , galuh adalah seorang pria yang  berkerja sebagai buruh proyek atau kuli bangunan berumur sekitar 40an tahun , dia hidup sendiri di dalam rumah yang sederhana.

Suatu hari , galuh pulang dari pekerjaannya sehari hari , dan memutuskan untuk langsung istirahat . 
Pada satu kondisi dimana dalam tidurnya, galuh tidak dapat membedakan kenyataan dan mimpi . galuh berada di suatu tempat yang dia sendiri tidak tahu dimana , banyak orang orang yang tidak dia kenal sedang bekerja. 

Ada yang sedang membuat bangunan rumah yang bentuknya unik  serta terbuat dari tanah liat dan atap lalang , ada yang membuat makanan ada pula yang membuat pagar menggunakan bambu.
Disana juga terlihat seseorang bertubuh kekar  berwajah serang dengan warna kulit gelap , seperti seseorang yang sedang memantau atau menjaga para pekerja disana .

Bingung dengan tempat yang galuh lihat , galuh pun mencoba bertanya kepada pekerja yang membuat bangunan , " permisi , dimana ini ya? " tanya nya  
Namun pekerja itu tidak merespon , seolah tidak ada yang terjadi , hal yang sama terjadi kepada semua orang yang galuh tanya. Galuh pun sangat kebingungan , hal terakhir yang dia tahu adalah galuh sedang beristirahat didalam kamarnya akibat kelelahan , namun tiba tiba dia berada di tempat antah berantah 

Galuh mencoba untuk tenang, mencari tahu apa yang terjadi , dia berfikir mungkin dengan mencari jalan pulang dia biaa sampai di tempatnya yang seharusnya .  pelan pelan , dia mulai berjalan berharap menemukan jalan untuk pulang. 

Setelah beberapa saat berjalan , dia melihat gapura megah setinggi kirang lebih 15 meter yang mengapit jalan, merasa senang karna berfikir dia menemukan jalan keluar , galur pun mempercepat langkah nya. Galuh semakin senang karna setelah melewati gerbang , galuh tahu bahwa jalan yang dilewatinya adalah jalan yang biasa dia lalui waktu dulu .

Tidak beberapa lama kemudian , galuh melihat gerbang yang sama bentuknya , dia pun merasa sedikit janggal karna gerbang itu tidak pernah ada sebelumnya  " apa mungkin kepala desa yang membangun ini? , tapi kapan ? " pikirnya .

Galuh pun mendekati gerbang itu, melihat lihat sesiapa dibalik gerbang tersebut. Dia pun senang karna keramaian orang orang dibalik gerbang itu memiliki bahasa yang sama sepertu bahasa keseharian dikampungnya itu.

Tidak menunggu lama , diapun memasuki gerbang dan berusaha mencari orang orang yang dia kenal.tapi , anehnya tak ada satu pun yang dia kenal secara akrab , melainkan dia mengenal wajah wajah itu tapi dia tidak tahu dimana dia kenal sebelumnya .

Galuh pun semakin bingung , berusaha melihat sekitar dan yang dia lihat adalah , galuh melihat bangunan bangunan yang sama seperti yang dia temui saat pertama kali berada di tempat ini.
Galuh merasa benar benar putus asa akan apa yang terjadi dengam dirinya , "apa aku sudah mati?" pikirnya ,

"Kalo aku sudah mati , apa yang menyebabkan aku mati? Aku merasa sehat , tidak ada yang janggal dalam kesehatanku , tapi kenapa ini terjadi ?" imbuhnya sambil menghela nafas
Dia pun memilih duduk diatas gundukan tanah sambil menangisi kejadian yang menimpa dirinya. 

Tiba-tiba seseorang mendekatinya ,  seorang pria yang sydah tua berpakaian serba putih itu pun bertanya kepada galuh .
"Kamu kenapa ada disini ?" tanya pria itu
"Ya?" jawab galuh heran , dengan pria yang berdiri di hadapannya , terang saja galuh bingung karna semua orang yang ia tanya , seolah menganggap dirinya tidak ada . 
Pria itupun bertanya sekali lagi , " kamu kenapa disini ? " 
"Maaf , saya sendiri tidak tahu apa yang terjadi , terakhir yang saya ingat saya sedang istirahat dirumah dan saat me,buka mata saya sudah berada disini " jawabnya .

" ini bukan tempat kamu , sudah saatnya kamu pulang " tambah pria itu dengan sedikit tersenyum 

"Tapi  bagaimana caranya ? , saya sudah berjalan kesana kmari tapi tidak menemukan jalan pulang " keluhnya 

Tanpa berkata apa apa pria itu pun meninggalkan galuh , galuh merasa heran siapa sebenarnya pria itu. Galuh pun mengikuti pria itu menuju sebuah pohon beringin tua yang rindang,
Didalam batang pohon beringin itu tampak seperti sebuah cahaya kecil  seperti kunang kunang yang berwarna putih bersih.

"Masuklah kedalam cahaya itu " perintah dari pria itu 
"Ah,? Bagaimana bisa saya masuk kedalam cahaya yang kecil seperti itu " jawab galuh dengan penuh penasaran .
"Kalo kamu ingun pulang, maka masuklah kedalam cahaya itu , jangan khawatir kamu tidak muat , tutup saja matamu dan masuk kedalam " tambah pria misterius itu

Galuh pun mengikuti perintah pria misterius itu , dan mulai berjalan ke arah cahaya itu dengan menutup mata. Perlahan , semakin di dekati cahaya itu semakin terang dan semakin besar dan seketika lenyap menjadi gelap. 

Perlahan galuh membuka matanya, namun yang dia lihat hanya kegelapan .Samar samar dan semakin jelas, galuh mendengar suara angklung , suara angklung yang seperti biasa dia dengar saat menghantar seseorang ke peristirahatan terakhir.

"Siapa yang mati?" pikirnya , sambil berusaha bangun ,namun dia tak bisa bergerak , sisi kiri dan kanan menghalangi dia untuk bisa bangun. Seketika galuh sadar bahwa dia berada di dalam peti. Dan dia akan di kubur hari itu. 

Dia pun teriak sekeras kerasnya "Woi ,Woi " namun tidak ada yang mendengarnya , suara angklung mengalahkan suara galuh.
Galuh berusaha bangun dengan segala cara , namun usahanya sia sia karna peti itu terikat dengan kencang untuk mencegah peti itu  terjatuh di perjalanan , 

Sesampainya di kuburan, orang orang pun bersiap unthk mengubur jenazah galuh, mereka mulai membuka ikatan tali nya dan membuka tutup peti,saat mereka membuka tutupnya , galuh pun merasa lega dan menyapa orang yang menutup peti itu . sontak mereka semua berhamburan kabur ketakutan melihat mayat hidup . 

Galuh berteriak minta tolong untuk di angkat dari peti namun mereka semua tidak memperdulikannya dan mereka berlari sejauh mungkin.

Saturday, February 13, 2016

Rajapala dan 7 Bidadari

Rajapala adalah seorang pria yang memiliki perkerjaan sebagai pemburu burung dan binatang untuk di jual di desanya yang berada di wilayah kerajaan wanakeling. Hari demi hari dia lalui sebagai pemburu untuk menghidupi kebutuhan hidupnya sendiri

Ya, rajapala adalah seorang yatim piatu, dia menghidupi dirinya sendiri dengan berburu, kehidupannya sungguh miskin hingga dia tidak punya teman hidup, padahal dia adalah orang yang tampan dan ulet dalam bekerja.

Pertemuan Rajapala dan 7 Bidadari

Pagi pagi Rajapala sudah bersiap untuk berburu ke hutan, setelah semua peralatannya lengkap Rajapala pun mulai berjalan dan memasuki hutan, menyusuri jalan setapak yang terjal dan rimbum bukan masalah bagi Rajapala, karna hutan itu sudah seperti rumah ke 2 bagi dia.
I durma
Rajapala dan 7 bidadari

Setelah memasuki hutan cukup dalam, Rajapala mulai berjalan dengan hati hati agar buruan yang ada tidak kabur,selang beberapa saat rajapala melihat burung yang indah, memiliki perawakan anggun seperti putri, dia berusaha menangkap hidup hidup burung tersebut, namun entah kenapa buru itu selalu lolos dari jebakan atau pun tulup, seoalah alam tak mengijinkannya untuk menangkap burung tersebut

Usah demi usaha dia lakukan untuk menangkap burung itu, namun tiada hasil, hingga akhirnya rajapala kelelahan dan beristirahat dibawah pohon pudak. Diantara bunyi burung burung yang indah dan suara angin, terdengar sayup sayup suara beberapa wanita yang sedang berbicara satu sama lain.

Rajapala pun berusaha mencari sumber suara tersebut, sampailah dia di sebuah telaga yang berada tidak jauh dari pohon pudak tempat dia beristirahat. Ternyata dia melihat 7 wanita cantik sedang mandi di dalam telaga tersebut, cantiknya melebihi putri bahkan ratu sekalipun.

Keinginan untuk memiliki salah satu wanita tersebut mendorong Rajapala untuk, menyembunyikan salah satu selendang wanita itu, dan memilih bersembunyi dengan memanjat pohon pudak. Berharap dengan menyembunyikan selendang itu, dia bisa memperistri salah seorang diantaramya.

Waktu berlalu, dan para wanita itu selesai membersihkan tubuhnya, satu persatu mulai mengenakan pakaiannya namun salah satu dari mereka kehilangan selendangnya, mereka pun berusaha mencari selendang tersebut. Namun tak ada hasil, karena keterbatasan waktu yang di berikan, para wanita itupun meninggalkan seorang diantara mereka. Seorang wanita berparas cantik, yang kemudian diketahui bernama ni sulasih.

Mereka semua adalah Bidadari yang turun dari khayangan untuk menikmati segarnya air di bumi, konon, dalam setiap waktu para penghuni khayangan mendapat kesempatan untuk turun ke bumi dalam beberapa saat. Para bidadari ini memilih mandi menikmati 'liburan' mereka dibumi.

Setelah sekian lama mencari selendangnya yang hilang sulasih pun merasa putus asa,dalam keputusaaan sulasih keluarlah rajapala dari persembunyiannya.

'Hai wanita cantik,namaku rajapala aku adalah seorang pemburu, apa yang kamu cari?' tanya rajapala
    'Aku mencari selendangku, nama ku sulasih wahai pemburu' jawab sulasih

Rajapala pun mengeluarkan selendang milik sulasih, sulasih merasa senang karena selendangnya sudah ditemukan. Ketika sulasih hendak mengambil selendangnya dari tangan Rajapala, Rajapala mulai memindahkan tangannya kebelakang tanda tak ingin mengembalikan. 

Merasa heran sulasih pun bertanya :

'Maaf, bisakah kamu mengembalikan selendangku, selendang itu sangat penting untukaku kembali ke tempatku'

'Tentu aku akan kembalikan selendang ini ke kamu, namun ada syaratnya' jawab rajapala

'Apa syaratnya? Aku bisa memberimu uang dan kekayaan'imbuh sulasih
'Apa yang bisa ku beli di tengah hutan seperti ini? Kekayaan seperti apa yang aku dapat didalam kesunyian hutan ini, aku tak butuh itu sulasih'keluh rajapala

Sulasih pun bingung, hal apa yang bisa membuat rajapala bisa mengembalikan selendang miliknya. Kemudian untuk memastikan keinginan raja pala, sulasih pun bertanya tentang keinginan rajapala 'lalu apa yang kamu inginkan?'

Rajapala menjawab 'aku sudah dewasa, tidak banyak hal yang aku inginkan di usiaku ini, aku hanya menginginkan seorang pendamping hidup, dan maukah kamu menjadi istriku, hanya dengan menjadi istriku, aku bisa mengembalikan selendangmu'

Sulasih pun setuju, tapi sulasih juga memiliki syarat yaitu setelah memiliki seorang anak, sulasih akan pergi ke khayaan dimana dia berasal. Tanpa pikir panjang, rajapala pun meng'iya'kan tanpa memikirkan apa yang terjadi kedepannya.

Pernikahan Rajapala Dan Sulasih

Setelah mereka berdua sepakat, merekapun pulang ke desa, dalam perjalanan, semua mata tertuju akan kecantikan sulasih.
Dengan rasa bangga rajapala menggandeng tangan sulasih menuju rumah nya, selang beberapa saat, pernikahan pun dilaksanakan.

Kehidupan sehari hari rajapala sangat membahagiakan, memiliki istri cantik yang rajin dan setia kepadanya semakin menumbuhkan kecintaan rajapala kepada sulasih, dalam setiap keterbatasan ekonomi rajapala, sering kali sulasih menggunakan kekuatannya untuk membantu perekonomian rajapala.

Mulai dari mengubah kendi beras menjadi kendi ajaib yang berasnya tidak pernah habis, hingga menyalakan api dengan instan. Namun diantara semua kebahagiaan Rajapala, sulasih juga diam diam mencari selendangnya, karena ketika mereka sudah mempunyai anak , Sulasih khawatir bahwa Rajapala akan mengingkari janjinya.

Kebahagiaan masih terasa dalam diri rajapala, dan kini kebahagiaan itu bertambah dengan hamilnya sulasih, namun di satu sisi Rajapala Pun memiliki kesedihan , ketika anak pertamanya lahir maka dia harus bersiap kehilangan istri yang sangat di cintainya.

Dalam hati rajapala, ia ingin mengingkari janjinya namun ia pun tak ingin terlalu egois terhadap istrinya, sementara itu, sulasih yang sedang mengambil beras tak sengaja menemukan selendang miliknya di dalam kendi beras tersebut. Sulasih pun menyimpannya di tempat yang dia tahu bahwa rajapala tak akan mengetahuinya.

Singkat cerita, anak mereka pun lahir, mereka menamainya I Durma. Didalam kebahagiaan itu sulasih pun mohon pamit untuk kembali ke khayangan.

'Bli rajapala, kini saatnya bli mengembalikan selendangku'

Tak bisakah kamu tinggal disini lebih lama, setidaknya sampai i durma besar'  kata rajapala

Janji adalah janji, aku ataupun kamu harus menepatinya bli, aku sudah tahu dimana bli menyembunyikam selendangnya, dan kini ijin kan aku pergi, jagalah anak kita sehingga tumbuh menjadi orang yang suputra'  setelah mengatakan itu sulasih pun pergi meninggalkan keluarga kecilnya.

Disinilah dimulai kesedihan kesedihan rajapala, sebuah penyesalan menghampiri rajapala bukan karena kelahiran anaknya ataupun kehilangan istri yang sangat dicintainya, melainkan karna terburu nafsu saat dulu ingin memperistri sulasih, tanpa memikirkan apa yang terjadi di masa mendatang.

Durma putra Rajapala

Cerita selanjutnya akan saya bahas di lain artikel, cerita yang penuh emosi dan airmata. Terima kasih telah membaca dan berkunjung di blog saya, silahkan boomark blog ini untuk memudahkan anda mengunjungi situs ini dikemudian hari.

Friday, February 12, 2016

Cerita Layonsari dan Jayaprana

Sebuah kisah nyata di tanah bali

Dua orang suami istri bertempat tinggal di Desa Kalianget mempunyai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan,oleh karena ada wabah yang menimpa masyarakat desa itu, maka empat orang dari keluarga yang miskin ini meninggal dunia bersamaan.

Tinggalah seorang laki-laki yang paling bungsu bernama I Jayaprana, Oleh karena orang yang terakhir ini keadaannya yatim piatu, maka ia puan memberanikan diri mengabdi di istana raja.
 Di istana, laki-laki itu sangat rajin, rajapun amat kasih sayang kepadanya, Kini I Jayaprana baru berusia duabelas tahun. Ia sangat ganteng paras muka tampan dan senyumnya pun sangat manis menarik.
layonsari
Jaya prana dan layon sari
Beberapa tahun kemudian, Pada suatu hari raja memerintahkan I Jayaprana, supaya memilih seorang Pelayan wanita yang ada di dalam istana atau gadis gadis yang ada di luar istana, Mula-mula I Jayaprana menolak titah baginda, dengan alasan bahwa dirinya masih kanak-kanak, Tetapi karena dipaksan oleh raja akhirnya I Jayaprana menuruti perintah raja, ia pun melancong ke pasar yang ada di depan istana hendak melihat-lihat gadis yang lalu lalang pergi ke pasar.

Pertemuan Jayaprana Dan Layonsari

Tiba-tiba ia melihat seorang gadis yang sangat cantik jelita, Gadis itu bernama Ni Layonsari, putra Jero Bendesa, berasal dari Banjar Sekar, melihat gadis yang elok itu, I Jayaprana sangat terpikat hatinya dan pandangan matanya terus membuntuti tingkah laku gadis itu ke pasar, sebaliknya Ni Layonsari pun tertarik hatinya baru memandang pemuda ganteng yang sedang duduk-duduk di depan istana.

Setelah gadis itu menyelinap di balik orang-orang yang ada di dalam pasar, maka I Jayaprana cepat-cepat bergerak mengikuti Ni Layonsari sampai ke rumahnya,I Jayaprana kembali ke istana hendak melapor kehadapan Sri Baginda Raja. Laporan I Jayaprana diterima oleh baginda dan kemudian raja menulis sepucuk surat, I Jayaprana dititahkan membawa sepucuk surat untuk diserahkan kepada orang tua Ni Layonsari, tiada diceritakan di tengah jalan, maka I Jayaprana tiba di rumahnya Jero Bendesa, ia menyerahkan surat yang dibawanya itu kepada Jero Bendesa ayah dari Ni Layonsari dengan hormatnya.

 Jero Bendesa menerima terus langsung dibacanya dalam hati, Jero Bendesa sangat setuju apabila putrinya yaitu Ni Layonsari dinikahkan dengan I Jayaprana, Setelah ia menyampaikan isi hatinya " setuju " kepada I Jayaprana, lalu I Jayaprana memohon diri pulang kembali, Di istana Raja sedang mengadakan sidang di pendopo, Tiba-tiba datanglah I Jayaprana menghadap pesanan Jero Bendesa kehadapan Sri Baginda Raja.

Pernikahan Jayaprana dan Layonsari

Kemudian Raja mengumumkan pada sidang yang isinya antara lain: Bahwa nanti pada hari Selasa Legi wuku Kuningan, raja akan membuat upacara perkimpoiannya I Jayaprana dengan Ni Layonsari, Dari itu raja memerintahkan kepada segenap perbekel supaya mulai mendirikan bangunan-bangunan rumah, balai-balai selengkapnya untuk I Jayaprana, Menjelang hari pernikahannya semua bangunan-bangunan sudah selesai dikerjakan dengan secara gotong royong semuanya serba indah, Kini tiba hari upacara pernikahan I Jayaprana yang diiringi oleh masyarakat desanya pergi ke rumahnya Jero Bendesa, hendak memohon Ni Layonsari dengan alat upacara selengkapnya.

Sementara Sri Baginda Raja sedang duduk di atas singgasana dihadap oleh para pegawai raja dan para perbekel baginda.Beberapa saat Kemudian datanglah rombongan I Jayaprana di depan istana, Kedua mempelai itu harus turun dari atas joli, dan langsung menyembah kehadapan Sri Baginda Raja dengan hormatnya, Melihat wajah Ni Layonsari, raja pun membisu tak dapat bersabda, Raja jatuh Cinta pada kecantikan Ni Layonsari, Jatuh cinta kepada wanita yang akan di nikahkan dengan I Jayaprana Setelah senja kedua mempelai itu lalu memohon diri akan kembali ke rumahnya meninggalkan sidang di paseban.

Sepeninggal mereka itu, Sri Baginda lalu bersabda kepada para perbekel semuanya untuk meminta pertimbangan agar istri I jayaprana yaitu Ni Layonsari supaya masuk ke istana dijadikan permaisuri baginda, Raja berkata " apabila Ni Layonsari tidak dapat diperistri maka Aku akan mangkat karena kesedihan " Mendengar sabda itu salah seorang penasihat lalu tampak ke depan hendak memberi pertimbangan, yang isinya antara lain, agar Sri Paduka Raja memerintahkan I Jayaprana bersama rombongan pergi ke Celuk Terima, untuk menyelidiki perahu yang hancur dan orang-orang Bajo yang menembak binatang yang ada di kawasan pengulan. Demikian isi pertimbangan salah seorang perbekel yang bernama I Saunggaling, yang disepakati oleh Sang Raja.

Sekarang tersebutlah I Jayaprana yang sangat brebahagia hidupnya bersama istrinya, Kehidupan baru I Jayaprana dan Ni layonsari sangat berbahagia, keseharian mereka penuh dengan kasih sayang,kecintaan Ni Layonsari semakin bertambah melihat pribadi I Jayaprana yang sangat baik dan rendah hati juga ramah kepada semua orang, Tujuh hari sudah mereka menjalani kehidupan baru , Lalu datanglah seorang utusan raja ke rumahnya, yang bermaksud untuk memanggil I Jayaprana supaya menghadap ke paseban Jayaprana segera pergi ke paseban menghadap Sri Paduka Raja.

Di paseban mereka dititahkan supaya besok pagi-pagi ke Celuk Terima untuk menyelidiki adanya perahu kandas dan kekacauan-kekacauan lainnya. Setelah senja, sidang pun bubar, I Jayaprana pulang kembali ia disambut oleh istrinya yang sangat dicintainya itu, I Jayaprana menerangkan hasil-hasil rapat di paseban kepada istrinya, Hari sudah malam Ni Layonsari bermimpi, rumahnya dihanyutkan banjir besar, ia pun bangkit dari tempat tidurnya seraya menerangkan isi impiannya yang sangat mengerikan itu kepada I Jayaprana. Ia meminta agar keberangkatannya besok dibatalkan berdasarkan impiannya.

Tetapi I Jayaprana tidak berani menolak perintah raja, Dikatakan bahwa kematian itu terletak di tangan Tuhan Yang Maha Esa, Pagi-pagi I Jayaprana bersama rombongan berangkat ke Celuk Terima, meninggalkan Ni Layonsari di rumahnya dalam kesedihan, Dalam perjalanan rombongan itu, I Jayaprana sering kali mendapat kejadian yang buruk seolah sebagai peringatan akan adanya bahaya.

Akhirnya mereka tiba di hutan Celuk Terima, I Jayaprana sudah merasa dirinya akan dibinasakan kemudian I Saunggaling berkata kepada I Jayaprana sambil menyerahkan sepucuk surat, I Jayaprana menerima surat itu terus langsung dibaca dalam hati isinya "Hai engkau Jayaprana Manusia tiada berguna Berjalan berjalanlah engkau Akulah menyuruh membunuh kau Dosamu sangat besar Kau melampaui tingkah raja Istrimu sungguh milik orang besar Kuambil kujadikan istri raja Serahkanlah jiwamu sekarang Jangan engkau melawan Layonsari jangan kau kenang Kuperistri hingga akhir jaman".

Kematian Jayaprana

 Demikianlah isi surat Sri Baginda Raja kepada I Jayaprana, Setelah I Jayaprana membaca surat itu lalu ia pun mengeluarkan airmata sambil meratap, "Yah, oleh karena sudah dari titah baginda, hamba tiada menolak, Sungguh semula baginda menanam dan memelihara hamba tetapi kini baginda ingin mencabutnya, yah silakan, Hamba rela dibunuh demi kepentingan baginda, meski pun hamba tiada berdosa.

Demikian ratapnya I Jayaprana seraya mencucurkan air mata.

Selanjutnya I Jayaprana meminta kepada I Saunggaling supaya segera bersiap-siap menikamnya, S I Saunggaling Berkata kepada I Jayaprana bahwa ia hanya menuruti apa yang dititahkan oleh raja walaupun dengandengan hati yang berat dan sedih ia menancapkan kerisnya pada lambung kirinya I Jayaprana, Setelah mayat I Jayaprana itu dikubur, maka seluruh perbekel kembali pulang dengan perasaan sangat sedih, Di tengah jalan mereka sering mendapat bahaya maut, Diantara perbekel itu banyak yang mati, Ada yang mati karena diterkam harimau, ada juga dipagut ular, Pada akhirnya para Perbekel yang selamat menghadap ke Raja untuk menyampaikan bahwa misi yang diberikan untuk membunuh I Jayaprana telah selesai , Mendengar hal itu Raja sangat senang , dan memberi penghargaan kepada para perbekel.

Sang Raja kemudian secara langsung menyampaikan berita " duka " ini kepada Ni Layonsari Sementara Ni Layonsari menunggu suaminya dengan hati yang gelisah, Terdengar suara prajurit yang mengatakan , bahwa raja telah tiba , Kemudian rajapun masuk ke dalam ruangan dimana Ni Layonsari menunggu Raja dengan raut wajah sedih mengatakan, " Layon sari , maafkan Raja mu ini yang telah membuat suamimu meninggal ' " Sungguh ini adalah duka besar bagi Ku , Kerajaan ini , dan kamu " "I Jayaprana meninggal dalam tugasnya di celuk terime " Tanpa sempat menyelesaikan semua yang ingin dikatakan sang raja , tiba-tiba Ni Layonsari menghampiri sang Raja dengan berlinang air mata dan mengambil keris yang berada di pinggang sang raja kemudian menikam dadanya sendiri , darah Layonsari menyembur wajah dan tubuh raja, layonsari seketika meninggal, Raja pun tertegun , tak bisa berkata apapun raja tenggelam dalam kesedihan yang sesungguhnya , kematian layonsari membuat raja terlarut dalam kehampaan selama hidupnya.